OKU Selatan, Sumsel–Ratusan anak muda memadati Gedung Dakwah Muhammadiyah Kabupaten OKU Selatan dalam kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi, yang belakangan viral dan ramai diperbincangkan di media sosial, Kamis (21/05/2026) malam.
Kegiatan ini digelar kolaboratif oleh IMM OKU Selatan, Peradah Indonesia OKU Selatan, Atlas OKU Selatan, dan SMSI OKU Selatan. Tak sekadar pemutaran film, acara tersebut juga menjadi ruang dialog terbuka bagi generasi muda untuk berdiskusi tentang demokrasi, kebebasan berekspresi, serta refleksi 28 tahun reformasi.
Pantauan di lokasi, ruang pemutaran dipenuhi peserta dari berbagai kalangan, didominasi mahasiswa dan anak muda. Mereka tampak antusias mengikuti jalannya pemutaran film hingga sesi diskusi yang berlangsung hangat dan kondusif.
Panitia pelaksana, Ferli Oktavianus, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dirancang bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga wadah edukasi publik agar masyarakat dapat memahami berbagai sudut pandang terhadap isu sosial yang diangkat dalam film dokumenter tersebut.
“Ini bukan sekadar nobar. Kami ingin membuka ruang diskusi yang sehat, agar masyarakat khususnya generasi muda bisa mendengar perspektif berbeda dan berdialog dengan suasana yang adem,” ujar Ferli.
Selain itu, Ferli juga mengajak mahasiswa dan pemuda di OKU Selatan untuk lebih peka terhadap lingkungan di kabupaten OKU Selatan terkhususnya PSN Bendungan tiga Dihaji.
“Kami siap mendukung keberlangsungan pembangunan bendungan tiga Dihaji hingga selesai dan berharap tidak terjadi proyek mangkrak seperti PSN-PSN tempat lain,” tegasnya
Berbeda dengan sejumlah daerah lain di Indonesia yang sempat diwarnai pembubaran kegiatan serupa, pelaksanaan nobar di OKU Selatan berlangsung aman, tertib, dan mendapat pengawalan aparat kepolisian.
Ketua SMSI OKU Selatan, Sri Fitriyana, mengapresiasi seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut, termasuk aparat keamanan yang dinilai memberikan ruang bagi masyarakat untuk berdiskusi secara positif dan edukatif.
Menurutnya, kegiatan itu menjadi momentum penting untuk meningkatkan wawasan generasi muda terkait demokrasi dan kebebasan sipil di era reformasi.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah menambah wawasan dan pengetahuan generasi muda. Apalagi dalam kesempatan ini juga digelar diskusi refleksi 28 tahun reformasi dengan tema ‘Merawat Kebebasan dan Demokrasi’,” katanya.
Kegiatan berlangsung hingga malam hari dengan suasana tertib, interaktif, dan penuh semangat kebersamaan. (Red)










