sumsel.siberindo.co – Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Sumatera Selatan terus menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan bebas kekerasan. Ketua BKOW Sumsel, Hj. Lidyawati Cik Ujang, hadir langsung dalam kegiatan Sosialisasi Pencegahan Perundungan dan Kekerasan di Lingkungan Sekolah yang digelar di Aula SMK Negeri 2 Palembang, Selasa (28/7).
Dalam arahannya, Hj. Lidyawati Cik Ujang menegaskan bahwa sekolah sudah sepatutnya menjadi rumah kedua yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi peserta didik. Atmosfer hangat tercipta saat ia secara interaktif mengajak para siswa naik ke atas panggung untuk membagikan pengalaman mereka.
“Apakah di sekolah pernah ada perundungan? Ada yang mau bercerita? Sini, maju,” sapanya hangat di hadapan ratusan siswa. Lidyawati menekankan bahwa pemahaman sejak dini sangat krusial agar para siswa memiliki rasa empati dan tidak melakukan aksi bullying kepada sesama teman.
Merespons kegiatan tersebut, Kepala SMKN 2 Palembang, H. Suparman, S.Sos., menyampaikan apresiasi yang mendalam. Dengan total 2.695 siswa yang tersebar di 9 program keahlian, edukasi mengenai pencegahan kekerasan menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter peserta didik.
“Pendidik ini ibarat meluruskan tulang yang bengkok. Kalau terlalu lembut ia tetap bengkok, tapi kalau terlalu keras ia bisa patah. Strategi mendidik kami tentu ada kalanya lembut, dan ada kalanya tegas,” ujar Suparman.
Lebih jauh, ia memaparkan kekhawatiran yang kerap dirasakan para tenaga pendidik saat ini. Aturan perundang-undangan terkait HAM terkadang membuat para guru serba salah dalam menerapkan kedisiplinan, karena khawatir tersandung kasus hukum terkait tuduhan kekerasan. Oleh karena itu, strategi edukasi dan kepastian hukum menjadi sangat mendesak.
Disesi akhir sosialisasi menghadirkan 3 orang narasumber yakni psikolog RG Bambang Harijanto, Dwi Noviani dari KPAID, dan advokat Ridho Junaidi










