oleh

Bangun SDM Warga Binaan, Lapas Muaradua Gelar MoU Pendidikan Kesetaraan dan Wisuda Iqro

OKU Selatan Sumsel–Di tengah kondisi hunian yang telah melebihi kapasitas hampir tiga kali lipat dari daya tampung, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Muaradua tetap konsisten menjalankan berbagai program pembinaan yang berorientasi pada pendidikan, rehabilitasi, dan pembentukan karakter warga binaan.

Komitmen tersebut ditegaskan Kepala Lapas Kelas IIB Muaradua, Hero Sulistiyono, dalam kegiatan Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Pendidikan Kesetaraan serta Wisuda/Akhirusunnah Iqro Gelombang III yang dihadiri Bupati OKU Selatan Abusama, unsur Forkopimda, dan sejumlah pemangku kepentingan.

Menurut Hero, paradigma pemasyarakatan saat ini tidak lagi sekadar menjalankan fungsi penghukuman, melainkan menjadi sarana pembinaan untuk mempersiapkan warga binaan kembali ke tengah masyarakat.

“Lapas bukan hanya tempat menjalani pidana. Lapas adalah tempat pembinaan, tempat membangun kembali harapan dan masa depan. Kami ingin setiap warga binaan memiliki kesempatan memperbaiki diri, meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kehidupan agar siap kembali menjadi bagian dari masyarakat,” tegas Hero.

Salah satu program unggulan yang terus diperkuat Lapas Muaradua adalah penyelenggaraan Pendidikan Kesetaraan Paket A, B, dan C melalui kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten OKU Selatan.

Program ini dinilai sangat strategis mengingat masih banyak warga binaan yang memiliki tingkat pendidikan rendah bahkan belum pernah mengenyam pendidikan formal.

Data Lapas Muaradua menunjukkan terdapat 9 warga binaan yang masih buta huruf, 5 orang tidak pernah sekolah, 42 orang tidak lulus SD, 95 orang lulusan SD, 73 orang lulusan SMP, 102 orang lulusan SMA/SMK, 2 orang lulusan Diploma III, dan 4 orang sarjana (S1).

Baca Juga  Gali Kemampuan Narapidana, Lapas di OKU Selatan Gelar Pelatihan Press Velg dan Salon Mobil

Melalui pendidikan kesetaraan, warga binaan diberikan kesempatan memperoleh ijazah yang setara dengan jenjang pendidikan formal, mulai dari SD, SMP hingga SMA.

Program tersebut telah berjalan dalam tiga angkatan. Angkatan pertama diikuti 19 peserta pada 12 Desember 2025, angkatan kedua 16 peserta pada 14 Maret 2026, dan angkatan ketiga yang diwisuda pada kegiatan tersebut sebanyak 20 peserta.

“Pemenuhan hak pendidikan bagi warga binaan merupakan bagian penting dari proses pembinaan. Pendidikan akan menjadi bekal mereka untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti,” ujar Hero.

Selain pendidikan formal, Lapas Muaradua juga memperkuat pembinaan keagamaan melalui program pemberantasan buta huruf Al-Qur’an bekerja sama dengan Kementerian Agama Kabupaten OKU Selatan dan Pondok Pesantren Darul Huda.

Program yang telah berjalan dalam tiga gelombang itu berhasil meluluskan puluhan warga binaan. Pada Wisuda Iqro Gelombang III, sebanyak 20 warga binaan dinyatakan lulus. Secara keseluruhan, sebanyak 55 warga binaan telah berhasil menyelesaikan pembelajaran Iqro dan dasar-dasar membaca Al-Qur’an.

Hero menilai pembinaan spiritual memiliki peran penting dalam membangun kesadaran hukum sekaligus memperkuat karakter warga binaan.

“Kami ingin warga binaan tidak hanya memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga memiliki fondasi moral dan spiritual yang kuat. Keduanya harus berjalan seiring agar proses perubahan dapat berlangsung secara utuh,” katanya.
Rehabilitasi Narkoba Jadi Fokus Pembinaan

Mayoritas penghuni Lapas Muaradua saat ini merupakan narapidana kasus narkotika. Untuk menjawab tantangan tersebut, Lapas menggandeng BNNK OKU Timur dalam pelaksanaan program rehabilitasi pemasyarakatan.

Baca Juga  Bersihkan Lapas dari Benda Terlarang, Petugas Gabungan Lakukan Razia Blok Hunian

Program tersebut difokuskan pada pemulihan perilaku, peningkatan kesadaran terhadap bahaya narkoba, serta membangun komitmen warga binaan agar tidak kembali terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika setelah bebas.

“Pembinaan harus menyentuh akar persoalan. Karena itu rehabilitasi menjadi bagian penting dalam proses pemulihan dan perubahan perilaku warga binaan,” jelas Hero.

Keberhasilan pembinaan, lanjut Hero, harus didukung dengan lingkungan lapas yang aman dan bebas dari peredaran barang terlarang.

Untuk itu, Lapas Muaradua secara rutin melaksanakan penggeledahan kamar hunian, razia barang terlarang, serta tes urine terhadap warga binaan maupun petugas dengan melibatkan unsur TNI dan Polri. Hasil tes urine yang dilakukan terhadap warga binaan kasus narkotika maupun seluruh pegawai Lapas menunjukkan hasil negatif.

“Kami terus memperkuat pengawasan agar Lapas Muaradua tetap bersih dari narkoba, handphone ilegal, senjata tajam, maupun barang-barang terlarang lainnya. Lingkungan yang aman dan tertib menjadi kunci keberhasilan seluruh program pembinaan,” tegasnya.

Meski dihadapkan pada tantangan over kapasitas, Lapas Kelas IIB Muaradua terus berupaya memastikan proses pembinaan berjalan optimal.

Bagi Hero Sulistiyono, ukuran keberhasilan pemasyarakatan bukan terletak pada lamanya seseorang menjalani hukuman, melainkan pada perubahan yang berhasil dibangun selama berada di dalam lapas.

“Tujuan akhir dari seluruh program ini adalah menghadirkan harapan baru. Ketika mereka kembali ke masyarakat, kami ingin mereka hadir sebagai pribadi yang lebih baik, lebih produktif, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama,” pungkasnya.

Baca Juga  Berkelakuan Baik 138 Napi di OKU Selatan Terima Remisi Hut RI Ke-76

Sementara itu, Bupati OKU Selatan Abusama memberikan apresiasi atas berbagai program pembinaan yang dijalankan Lapas Kelas IIB Muaradua. Menurutnya, upaya yang dilakukan tidak hanya menjalankan fungsi pemasyarakatan, tetapi juga berkontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten OKU Selatan.

Abusama menilai program pendidikan kesetaraan, pemberantasan buta huruf Al-Qur’an, hingga rehabilitasi Narkoba merupakan langkah konkret yang memberikan kesempatan kedua bagi warga binaan untuk memperbaiki masa depan mereka.

“Pemerintah Kabupaten OKU Selatan sangat mengapresiasi komitmen Lapas Muaradua dalam memberikan layanan pendidikan dan pembinaan kepada warga binaan. Ini merupakan investasi sosial yang sangat penting karena tujuan akhirnya adalah mengembalikan mereka ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik dan produktif,” ujarnya.

Ia juga menegaskan dukungan pemerintah daerah terhadap program pendidikan kesetaraan yang dijalankan di dalam lapas sebagai bagian dari pemenuhan hak dasar warga negara.

“Kami berharap kerja sama yang telah terjalin dapat terus diperkuat. Pendidikan dan pembinaan adalah jalan terbaik untuk memutus mata rantai ketidaktahuan, kemiskinan, maupun penyalahgunaan Narkoba yang selama ini menjadi salah satu faktor penyebab seseorang berhadapan dengan hukum,” katanya.

Menurut Bupati, keberhasilan pemasyarakatan bukan hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan semata, tetapi membutuhkan dukungan seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah, aparat penegak hukum, tokoh agama, dunia pendidikan, dan masyarakat. (Red)

News Feed